Sama sekali tidak pernah terbayangkan bagi saya, untuk dapat keluar Sulawesi Selatan lagi karena sebuah usaha. Yah, sebuah usaha yang melalui waktu tidak sebentar untuk mendapatkan kesempatan itu. Kembali Flash Back beberapa bulan lalu. Lebih tepat setahun yang lalu, 2011. Bulan Desember 2011 yang lalu, saya mendengar ada perlombaan tentang Legilslative Drafting. Sebuah perlombaan tentang Perancangan Undang-Undang yang diadakan oleh Universitas Katolik Parahyangan Bandung (Unpar). Pengumuman itu akhirnya membawa saya untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu calon peserta dalam perlombaan tersebut.
Ternyata, dalam kompetisi tersebut dibutuhkan 1 Tim yang terdiri dari 5 orang sebagai perwakilan dari Fakultas Hukum Unhas. Karena pada saat itu, ada sepuluh pendaftar sehingga kami harus melalui penyeleksian awal. Saya dan sembilan orang lainnya harus bekerja keras untuk mampu mempertunjukkan kemampuan terbaik kami dalam penyeleksian ini. Seleksi dilakukan sejak sore hingga malam hari. pada seleksi ini, kami diharuskan menguasai materi tentang ketenagakerjaan dan jamsostek. Dan tepat jam 9 Malam, seleksi berakhir. Tidak terlalu lama waktu yang saya butuhkan untuk tahu pengumuman siapa saja yang masuk sebagai Tim dari Unhas itu.. Alhamdulillah, saya menjadi salah satunya.
Perjuangan, rupanya tak hanya sampai disini. Setelah pengumuman itu, saya, Junaedi Azis, Emi Humairah, Nurjihad dan Muldiana harus kembali bekerja keras untuk merancang sebuah Undang-Undang terkait dengan Tema yang diberikan yakni Jaminan Sosial bagi Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Tema yang cukup menarik dibahas, melihat permasalahan TKI kita yang sering menjadi objek kekerasan dan penindasan. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya dan keempat rekan saya dalam hal merancang sebuah undang-undang. Bagaimana tidak, diantara kami berlima tidak ada satupun yang pernah memiliki pengalaman terkait kompetisi seperti ini dan juga hal ini merupakan kompetisi pertama terkait Legislative Drafting atau perancangan undang-undang yang diikuti oleh Unhas. Namun, hal ini tak menjadi halangan bagi kami untuk terus berjuang mengahsilkan sebuan naskah akademik yang digunakan untuk membentuk suatu rancangan undang-undang. Satu bulan, kami mengahbiskan waktu untuk membuat rancangan undang-undang. Dan tiba saatnya untuk mengirmkan hasil rancangan tersebut kepada panitia Perlombaan di Universitas Katolik Parahyangan Bandung untuk diseleksi lagi agar dapat masuk ke tahap selanjutnya yaitu tahap presentasi.
Seminggu waktu yang cukup lama bagi kami untuk menunggu pengumuman lolos tidaknya Unhas sebagai Tim yang berhak mempresentasikan Rancangan Undang-Undang tersebut. Alhamdulillah, Unhas masuk sebagai 5 Besar Yang wajib mempresentasikan Rancangan Undang-Undang yang kami buat.
Seminggu adalah waktu yang kami miliki untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan presnetasi kami nantinya. Latihan berbicara, prsentasi, tak pelak menjadi bagian yang tidak terlepas dari saya dan keempat rekan saya yang lainnya di hari-hari menjelang keberangkatan kami ke Bandung.
Waktu terus berlalu, hingga tiba keberangkatan kami ke Bandung. Bandung, lagi buat saya kota kembang itu menjadi sebuah semangat. Bagaimanapun, saya dan keempat teman saya harus memberikan yang terbaik buat almamater merah, kampus ayam jago ini, UNHAS. Tujuh belas Februari 2011, kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan segera beranjak menuju Bandung tepatnya Unpar. Perjalanan cukup lancar, tapi tetap saja hal ini tidak banyak membuat kami terlalu larut dalam kegembiraan karena belum tercapai tujuan kami datang ke Bandung. Setibanya di Bandung, kami menuju Unpar untuk segera mengikuti acara pembukaan. Kesan pertama, "wah" kampus yang cukup sejuk dan menurut saya sebuah tempat yang saya akui kebersihannya. Kedatangan kami disambut hangat oleh para panitia, apalagi LO kami pun sudah tersenyum ramah. Bagaimana tidak, LO Unhas ternyata orang Makassar juga jadi yah tidak asing lagi bagi kami untuk saling berkomunikasi.
Hari Pertama di Unpar, cukup lancar. Ternyata, sudah banyak delegasi lain yang datang. Acara pembukaan cukup hikmat, delegasi Unhas disambut begitu berbeda oleh Dekan Fakultas Hukum Unpar, bapak Sentosa Sembiring. Beliau sempat mengutarakan bahwa beliau sangat senang Unhas yang berada di kawasan Indonesia Timur berkenan hadir dan mengikuti perlombaan yang diadakan oleh Fakultas Hukum Unpar. Sebelum beliau meninggalkan ruangan acara, beliau sempat berkata, "Jadilah juara dan selamat berkompetisi."
Tak hayal, ini menjadi sebuah semangat juga bagi kami untuk dapat memberikan yang terbaik. Setelah pembukaan acara, para peserta diantar menuju hotel Yehezkiel sebagai tempat peristirahatan yang disediakan oleh panitia. Namun, semua Ketua Delegasi dari masing-masing harus tinggal untuk mengikuti technical meeting. Kebetulan untuk delegasi dari Unhas, saya yang mewakili. Dalam peraturan yang diberikan oleh Panitia, selama perlombaan berlangsung tidak boleh menggunakan segala atribut universitas dan tidak boleh menyebutkan universiltasnya dan itu menjadi suatu keharusan bagi kami delegasi. Akhir dari Technical Meeting adalah dengan pemilihan nomor urut tampil. Dan Unhas mendapat urutan ke-3 sebagai penampil presntasi esok harinya.
Malam hari sebelum hari-H, saya dan keempat rekan saya melakukan latihan lagi dan lagi. Entah mengapa, kami semua terlihat sangt gugup. Latihan-pun berakhir sekitar jam 12 malam.
Esok harinya, waktu yang dinanti akhirnya tiba. Saat dimana, kami harus memberikan yang terbaik. Dua delegasi penampil sebelum kami telah manampilkan penampilan yang terbaik. Cara dan tekhnik prsentasinyapun bisa saya acungi jempol. Setelah melewati 2 Delegasi yang lain, tiba saatnya bagi kami untuk mempresentasikan hasil rancangan Undang-Undang kami. Karena setiap delegasi dibebankan waktu selama 30 Menit untuk presentasi, jadi kamipun juga menggunakan waktu tersebut dengan maksimal. Lima belas menit pertama, 20 Menit, dan 30 Menit. Akhirnya, prsentasi-pun selesai. Selanjutnya kami harus beradu argument dengan para penanya yang masing-masing diberikan waktu selama 2 Menit untuk bertanya. Pertanyaan dari 3 Juri dan 4 Delegasi lainnya.
Argument demi argument dari para penanya seakan mencoba untuk menjatuhkan kami,, tapi kami pun mencoba menangkis segala argument mereka dengan argument yang menjadi dasar bagi kami dalam merancang undang-undang. Saat yang buat kami, merupakan saat-saat yang menegangkan. Jawaban demi jawaban kami berikan dan akhirnya rangkaian prsentasi pun selesai. Entah seperti apa, kami menggambarkan kelegaan yang tak terhingga. Walaupun dalam prsentasi kami, kami banyak melakukan kesalahan-kesalahan tekhnis dalam hal menjawab pertanyaan, tapi inilah wujud bakti kami dan penampilan terbaik yang kami persembahkan buat almamater merah.
Tiba saat hari pengumuman, kami sudah memberikan yang terbaik. Saatnya tangan Tuhan yang menentukan apa yang terbaik bagi kami. Panitia menyebutkan juara ke-Lima, lalu Unhas pada posisi yang keempat. Perasaan kecewa pada saat itu, tentu seketika langsung menghinggapi kami. Tapi sekali lagi, kami harus belajar untuk menerima sebuah kekalahan. Tak ada artinya sebuah kekalahan, tapi hal berarti adalah sebuah pengalaman. Pengalaman, yang mengajarkan kami banyak hal. Kami tahu bagaimana rasanya berkompetisi nasional. bertandang di kota orang, mengenal delegasi lain, kami tahu ilmu tentang perancangan undang-undang, dan yang pasti kebersamaan kami adalah segalanya.
(Ghina Mangala Hadis Putri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berikan komentar anda di bawah sini.