JERATAN KALUNG-KALUNG KEJI ITU
Oleh : Ghina Mangala Hadis Putri
Goresan Pena, Makassar 05 April 2010
Tatapan kosong dari mata bocah-bocah kecil itu
menggambarkan betapa buruknya dunia pendidikan kita
Di saat para petinggi negara bergurau dengan lembaran-lembaran hijau
Mata-mata tak berdosa itu terus menatap
bangku-bangku kosong di ruangan yang tak beratap
Ruangan tak beratap yang tak pula berdinding
Semua lenyap dimakan oleh tamaknya sebuah kekuasaan
Kekuasaan-kekuasaan semu yang berdiri kokoh
di rapuhnya benteng pertahanan
di rapuhnya benteng pertahanan
Angkuh, rakus, tamak adalah beberapa mutiara diantara kalung-kalung orang petinggi itu
Kalung-kalung yang menyilaukan setiap mata yang memandangnya
Kalung-kalung yang slalu mereka banggakan
Padahal mereka tidak tahu betapa kejinya jeratan kalung-kalung itu di leher mereka
Mereka yang tidak pernah menyadari arti sebuah tanggung jawab
Mereka yang terlalu terlena dengan keindahan kalung-kalung keji itu
Bagaimana mungkin saat bocah-bocah kecil yang tampak compang-camping
Mengemis untuk sekedar mendapatkan sentuhan kasih dari tangan mereka
Bahkan untuk sedikit memicingkan mata pun mereka enggan…
Bocah-bocah itu calon intelektual muda jalanan, kawan..
Bocah-bocah itu akan menjadi sebuah bayang tentang kehidupan berikutnya
menjadi sebuah harapan dan keinginan sebuah pembaharuan masa depan
Tapi Mungkinkah itu akan menjadi sebuah pencapaian dari makna hidup
di dunia yang kau anggap adalah istana Layaknya gedung-gedung pencakar langit
yang kian hari menampakkan kesombongannya???
di dunia yang kau anggap adalah istana Layaknya gedung-gedung pencakar langit
yang kian hari menampakkan kesombongannya???
(Terkhusus untukmu para bocah calon intelektual muda jalanan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berikan komentar anda di bawah sini.