Selasa, 19 April 2011

Periode Kehidupanku I

 

Setiap manusia memiliki jalan hidup masing-masing. Setiap manusia pasti memiliki periode kehidupan sendiri, termasuk aku. Yah, periode kehidupanku dimulai di sebuah kota yang memiliki suhu udara cukup dingin di Propinsi Irian Jaya (sekarang Papua) yakni Wamena. Tepat di Hari Jumat, 27 September 1991 pukul 10.00 WIT. Aku lahir di dunia. Dengan tangisan yang menjadi pelipur lara kedua orang tuaku. Lahir dari rahim seorang wanita hebat bernama Titik Sumartini. Secara fisik, aku dilahirkan dengan kondisi yang sehat. Kulit hitam, rambut sedikit berombak. Aku tak pernah membayangkan, ketika aku akan lahir seperti itu, padahal nyatanya sekarang ini aku tumbuh jadi gadis yang Imut dan cantik jelita (Hahahah, narsis boleh lah!!!). Entah mengapa, nama Ghina Mangala Hadis Putri menjadi pilihan dari kedua orang tuaku yang diberikan untukku. Kata papa sich, filosofi arti dari nama itu bagus. Ghina yang artinya kekayaan, Mangala adalah gabungan nama nenek mama yakni Mangun dan nenek dari papa Nanggala; Hadis adalah nama papa; dan putri yang menandakan bahwa aku adalah seorang anak perempuan. Jadi bisa disimpulkan bahwa mereka memberiku nama ini, dengan harapan bahwa aku akan selalu menjadi kekayaan dalam hidup mereka dan menjadi identitas diriku bahwa akau adalah anak dari Hadis. Hehehe, aku tahu bahwa setiap orang tua slalu memberikan harapan bagi setiap anaknya melalui sebuah nama.
               Tak ada yang bisa membuatku tidak merasa bersyukur atas semua ini, kelebihan yang aku punya juga karena aku berasal dari kedua orang tua yang berbeda suku. Mamaku berdarah Madiun Jawa Timur, sedangkan Papa adalah seorang putra daerah Palopo dan sedikit turunan Toraja. Ternyata ungkapan "Bhineka Tunggal Ika" tidak hanya dianut oleh Indonesia saja loh, tetapi bagi periode kehidupanku juga menganutnya. Periode kehidupan ini, nyatanya terus berjalan hingga saat berumur satu tahun, kedua orang tuaku dipindah tugaskan menuju sebuah kota yang juga masih berada di propinsi Papua. Nabire.
*Oia, sedikit bercerita juga tentang orang tuaku, Alhamdulillah aku lahir dan berada diantara kedua orang tua yang memiliki pekerjaan tetap. Mama adalah PNS Kodam, dan Papa adalah PNS Dinas Perindustrian pada saat itu.
                  Masa-masa kecil itu, kulalui di Nabire. Pada umur Satu, Dua, Tiga, Empat Tahun aku sama saja seperti anak-anak yang lainnya. Hanya saja, kembali mungkin aku termasuk anak yang beruntung. Saat semua mempunyai saudara kandung entah adik atau kakak, ternyata aku tidak bisa mendapatkannya. Entah ada apa dengan rencana-Nya ini. Namun, hal itu rupanya tidak menjadikanku kesepian. Adik-adik mama dan papa yang pada saat itu masih "lajang" menjadi teman yang setia menemaniku. Tante Emi, seorang guru Bahasa Inggris SMP. Tante Emy yang slalu setia menemaniku belajar, kata demi kata ia ajarkan padaku dengan tujuan agar aku mampu melebihi teman-temanku dalam membaca. Om Teguh, adik mama yang satu ini slalu menjadi temanku "berbelanja" di Supermarket Lucky. Hehehe masih tergambar jelas tentang semua itu. Tapi, ada lagi adik Papa yang memilki peranan besar terhadap masa-masa kecilku. Dia adalah Tante Sita. Entah, aku harus mengatakan apa yang bisa membalas segala budi baiknya terhadap keluargaku. Bisa dibilang, saat-saat kecil berada dirumah, aku lebih dekat padanya daripada mama. Mama dan Papa adalah orang-orang yang bekerja. Jadi, kalau saat pagi tak ada waktu untukku. Tante Sita, bagiku kau adalah sosok yang hebat. Bayangkan saja, ketika masih "cewek" kau mau saja disuruh menjagaku. Menjaga aku yang dulunya amat sangat "cengeng". Heheheheh tapi TOP BANGET deh!!!
               Mama dan Papa memilihkan aku sekolah Taman Kanak-Kanak yang notobenenya adalah TK Islam. TK Aisyah Bustanul Athfa, akhirnya menjadi sekolah di awal-awal pemahamanku bergabung di dunia sosial. Masih jelas teringat, teman-teman seperjuanganku di TK. Aku ingat seorang teman bernama Topan. Dia adalah pasangan terbaikku dalam hal bentuk dan postur tubuh saat itu. Bayangkan, di dalam satu sekolah itu hanya aku dan dia yang berpostur tubuh bongsor. jadi. wajar saja ketika kami menjadi idoal dari ibu-ibu teman-teman kami yang "gemes" melihat kami. Hahahahah, Topan.... Namun, entahlah sekarang Kamu ada dimana. Pergi begitu saja tanpa ada alamat lengkapmu. Satu yang pasti, aku punya kesan tentangmu sahabat. Annisa, dia seorang anak keturunan irian. Waktu itu, Ayahnya memilki peranan yang cukup besar di Nabire. Yah, dia anak dari Bapak Bupati Nabire. Entah mengapa, Annisa menjadi sahabat yang slalu care terhadapku. Annisa selalu menjadi "Guide" untukku, kalau mau main ayunan dia slalu yang mencarikan aku tempat. heheheeh. Annisa aku kangen. Kalau suatu saat kita bertemu, mungkin gak yagh kamu msih ingat ma aku. heheheh ^_^
              Ada juga Momon dan Mila. Hahahah, mereka ini kakak beradik yang menjadi teman bermainku. Tak slalu akur memang, tapi bagiku mereka itu baik banget. Pernah suatu kali, aku dan mereka bertengkar hebat karena persoalan "tutup" botol aqua. hahahahah, aneh memang sih tapi namanya juga anak kecil. wkwkwkwk Yah, tapi sekali lagi entah kini kalian berada dimana.  Periode kehidupanku berlanjut di Sekolah Dasar. Ternyata, kedua orang tuaku kembali memilihkan aku masuk di Sekoalh Dasar yang berbau "Islam". Dan SD Al-Hikmah Yapis menjadi jawabannya. Yah, aku rasa pertimbangan tempat yang tidak begitu jauh dari rumah kediamanku kali yaaa.... heheheheh
Ngomong-Ngomong, berkoar tentang periode kehidupanku. Akan berlanjut lagi nanti yaah... hehehe, nampaknya aku butuh waktu untuk mengingat memori yang tlah lama itu.. hehehe 
Sesion 1 and To be Continue to Sesion 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentar anda di bawah sini.