KOLOM
Budaya Diskusi Yang Terlupakan
(Oleh :Ghina Mangala Hadis Putri)
Entah mengapa saat mendengar kata “diskusi” selalu saja yang terlintas adalah bagaimana sebuah kebiasaan yang selalu dan selalu dilakukan oleh para Agent Of Control Social, Agent Of Change, dan Agent Moral Force.Yah, ketiga sebutan itulah yang selalu menjadi ikon “hot” untuk mahasiswa. Yang katanya memiliki keistimewaan karena menyandang gelar “Maha.” Apalah arti sebuah gelar saat tak ada lagi bukti nyata yang bisa mendukung opini public tentang mahasiswa. Tak tahu pasti, namun berbekal sedikit pengetahuan tentang pendidikan, wajar saat menggunakan pemikiran tentang sebuah Pendidikan Kritis di Negara ini. Pendidikan Kritis (critical pedagogy), merupakan mazhab pendidikan yang meyakini adanya muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan. Aliran atau pemahaman akan pendidikan kritis ini, biasa juga disebut dengan “aliran kiri” karena pemikiran yang berseberangan dengan mazhab liberal dan konservatif.
Pemikiran ini nampaknya mampu membawa kita pada keadaan saat dimana di sekeliling kita sudah tidak peka lagi tentang arti pendidikan yang sesungguhnya. Tepat, seperti dimana kaki kita berpijak kini. Saling keterkaitan antara muatan politik terhadap jalannya sebuah realitas pendidikan sangat jelas tergambar di wajah-wajah penerus bangsa yang bergelar Mahasiswa. Sebuah keyakinan yang nyatanya mampu menghadirkan kesetujuan akan hal ini. Tak bisa dipungkiri muatan social yang terjadi akibat adanya pemahaman pendidikan yang tak bisa dipisahkan dengan konteks social, ekonomi, budaya, dan politik secara lebih luas.
Budaya diskusi Nampaknya tak menjadi sesuatu yang berharga lagi dalam dunia kemahasiswaan kini. Dunia perpolitikan seperti banyaknya Organisasi kemahasiswaan yang hanya sekedar berkumpul tanpa pernah melakukan sesuatu yang sekiranya akan lebih mengena terhadap perjalanan panjang tentang sebuah proses pendidikan, Konteks Sosial, dimana banyaknya mahasiswa yang hanya sekedar “ikut-ikutan” dalam mengambil sebuah keputusan untuk mengubah proses berpendidikan itu menjadi lebih baik. Konteks Ekonomi, mungkin inilah yang cukup memengaruhi pemikiran seorang mahasiswa dalam berideologi. Terkadang, kepentingan ideologis yang mampu menyelimuti realitas seorang mahasiswa, membuat mereka (Mahasiswa) seakan lupa tentang budaya yang seharusnya mereka pegang teguh. Diskusi dan literasi nampaknya menjadi budaya yang sudah seakan tergerus oleh zaman.
Tak ada lagi seenggok rasa perduli tentang bagaimana jalannya proses berpendidikan yang lebih baik. Yang tinggal hanya kepedulian terhadap realitas ekonomi yang terkadang tanpa disadari membuat perubahan yang mungkin tak seharusnya dimilki oleh sebutan yang baik untuk mahasiswa. Diskusi yang seharusnya menjadi wadah untuk saling sharing dan berbagi tentang apa saja, menjadi tak begitu berarti di saat sekarang ini. Diskusi tak hayalnya hanya menjadi intrik belaka diantara pesona dibalik dunia kemahasiswaan. Pesona yang hanya tinggal pesona, pesona yang telah terlupakan. Pesona yang akan Nampak bila dilihat dari berbagai sudut pandang. Sebab, sebuah pesona yang indah akan Nampak indah saat seseorang dapat melihatnya dari sisi objektivitasnya sebagai manusia. Pelajran berharga dari sebuah literature yang kaya akan mahakarya tentang bagaimana budaya literasi akan sangat membantu pembentukan karakter seseorang dari sisi pendidikannya. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berikan komentar anda di bawah sini.