Ikhlas Dalam Bekerja
| C |
uaca cukup bersahabat sore itu, ditengah ketidakjelasan cuaca yang terjadi di Kota Anging Mamiri. Cuaca kadangkala memengaruhi perasaan seseorang, cuaca yang cukup cerah membuat perasaan orang enjoy sedangkan cuaca yang tidak bersahabat seperti hujan, panas terik yang menusuk hingga ke tulang belakang, juga mampu membuat orang menjadi lebih emosi.
Namun, lain halnya dengan sore itu, terlihat dari kejauhan sosok lelaki paruh baya yang berada di sekitar Pelataran Fakultas Hukum Unhas. Sosoknya yang bersahabat membuat cuaca sore itu beriringan dengan perasaan kami Kru EKSEPSI yang hendak mendatanginya. Yah, itulah sosok Jamaluddin yang akrab disapa Daeng Jama oleh civitas akademika FH-UH.
Sore itu, ia terlihat dengan setelan baju kaos hitam yang sudah sedikit pudar, Celana Kain berwarna Biru dan sandal Jepit berwarna hijau. Saat kru EKSEPSI menghampirinya di pelataran Parkir Selasa(1/11), ia Nampak kebingungan karena didatangi oleh kami. Namun, tak berlangsung lama tawanya kembali merekah setelah tahu maksud kedatangan kami.
Sederhana, itulah kesan pertama yang ditemui saat berjumpa dengan sosok Daeng Jama. Bagi civitas akademika FH-UH, tak ada yang tidak mengenal sosoknya. Daeng Jama merupakan salah satu orang yang mengabdi di Fakultas Hukum. Pekerjaannya sebagai penjaga Malam di area FH-UH dijadikannya sebagai sebuah kesyukuran yang tiada tara.
Kesyukuran itu, kemudian membawa bapak dari enam orang anak ini untuk kembali mengabdi selain sebagai penjaga malam juga sebagai tukang parkir di FH-UH. Sebagai penjaga malam, ia memulai pekerjaannya pada pukul enam sore hingga enam pagi.
Sepanjang waktunya, ia gunakan untuk berkeliling dan memerhatikan setiap sudut FH-UH. Saat kantuk menghinggapinya, di bagian ruangan apapun kerap ia jadikan sebagai tempat persinggahan untuk sekadar menghilangkan kantuk. Pekerjaannya tersebut tak ia kerjakan sendiri tetapi ia lakukan bersama seorang temannya.
Saat pagi menjelang, sosok tuanya tersebut harus kembali bekerja sampingan sebagai tukang parkir. bagi pria yang selalu ditemani oleh peluit ini tak ada keluhan untuk setiap yang ia jalani. Rupanya, bersyukur menjadi prinsip yang selalu ia pegang dalam hidup. Pria yang selalu menggunakan Topi ini selalu menjadikan segala sesuatu yang datang dalam hidupnya sebagai sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa dan harus dijalani dengan suka cita. “Saya senang sekali dengan pekerjaan ini, kalo ada itu orang bilang cinta pekerjaan, saya mi itu juga karena saya senang sekali dengan pekerjaan ini,” ujarnya sumringah.
Kehadiran Daeng Jama di Fakultas Hukum berawal pada tahun 2003 silam, ketika ia masih bekerja sebagai tukang becak di daerah Perumahan Dosen Tamalanrea. Ia ditawari bekerja oleh seorang teman yang telah bekerja lebih dulu sebagai penjaga malam di FH-UH. Awalnya ia sempat berpikir apakah akan menerima tawaran ini atau tidak namun setelah ia berkonsultasi dengan keluarga, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Sejak itulah, sosoknya mulai dikenal di FH-UH.
Selain sederhana, kepolosannya membuat Daeng Jama tak hanya dikenal oleh para mahasiswa saja tak hayal beberapa dosenpun banyak yang mengenalnya. Saat ditanya mengenai gaji dan dukungan dari keluarga tentang pekerjaannya ia mengungkapkan, “Saya bersyukur karena saya punya keluarga itu na dukung sekali k gaji memang tak seberapa tapi Alhamdulillah sekali k, kalau itu parkiran saya hanya ikhlas ja membantu kalau ada biasa mahasiswa yang kasih k uang saya terima kalau tidak, tidak papa ji juga.”
Keikhlasannya dalam bekerja, membuat ia mampu menjadikan anak-anaknya mandiri. Dengan pekerjaan dari menjadi tukang becak, Penjaga Malam, hingga tukang parkir sekalipun ia lakoni asalkan itu pekerjaan yang halal, mampu membuat empat dari enam anaknya menjadi mandiri. Kebanggaan baginya saat anak-anaknya memiliki pekerjaan di luar negeri ada yang di Malaysia dan beberapa tempat lainnya.
“Tuhan itu baik sekali, jadi jangan pernah menyalahkan Tuhan apa yang dikasih ke kita. Kalau baik, Alhamdulillah tapi kalaupun tidak ya syukuri semuanya. Ada orang yang biasanya tidak bersyukur itu salah karena apapun yang dikasih Tuhan wajib kita syukuri dan jangan pernah mengeluh, “Ujar pria penyuka Jagung ini. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun terkadang manusia tak pandai untuk bersyukur dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Sosok Daeng Jama, mengajrkan banyak hal kepada kita bahwa hidup itu harus selalu disyukuri karena selalu ada yang terbaik buat setiap orang yang selalu bersyukur. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berikan komentar anda di bawah sini.