Entah, sudah keberapa kalinya aku menyakitimu mama. Tak pernah sedikitpun terpercik di hatiku ingin menyakitimu, tapi maafkan aku, mama jika laku, dan ucapku justru menyakitimu.
Mama, hari ini aku tahu betapa sakitnya hatimu oleh ucapku
Maafkan anakmu, mama . . .
Maafkan anakmu, mama . . .
Aku, tak tahu akan seperti apa aku jika tanpa restumu mama. aku, takut Allah akan murka kepadaku jika mama murka dan kecewa kepada sikapku. aku tanpamu mama, tak berarti apa-apa. aku mungkin bisa jadi orang yang hebat, sukses, kaya, tapi apalah arti semua yang kumiliki jika mama tak restu kepadaku.
Mama, andai kau tahu betapa besarnya rasa cintaku kepadamu... Hidupku, hanya aku persembahkan untuk bahagiakanmu mama.
Mungkin benar, "kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah." aku tahu, aku bukanlah anak yang sempurna. Terkadang, aku lupa dan khilaf berlaku tidak sepantasnya kepadamu mama.
Maafkan anakmu, mama...
aku takut mama, ketika aku melihat mama menangis karena tingkah laku dan ucapanku...
Ya Rabb, betapa durhakanya aku yang telah membuat mama menangis karena ucapku.
Ya Rabb, ampuni aku...
Mama, mungkin hatimu masih terluka oleh ucapku.,., tapi, aku masih bisa melihat mama tersenyum dan berkata, "Mama, sudah memaafkanmu, nak,"
Ya Allah,.,.,.,.,
Bagaimana mungkin aku membuat mama terluka sementara mama dengan kasih dan kelembutannya masih saja memberikan maaf itu kepadaku.
Bagaimana mungkin, aku membuat mama menitikkan air mata karena kecewa akan lakuku kepadanya yang sedikit kasar sementara mama meluangkan waktunya hanya untuk melihatku sekejap saja sebelum aku pergi di kampung orang.
Bagaimana mungkin, aku dongkol ketika mama menelpon diantara kesibukannku dengan aktivitasku sementara mama dengan khawatirnya menelponku hanya untuk sekadar mengetahui kabar beritaku hari ini..
Bagaimana mungkin, aku membantahnya jika ada yang ingin mama sampaikan menurut pemikirannya sementara dulu ketika ku masih kecil, mama selalu menjawab segala pertanyaan yang terlontar dariku..
Bagaimana mungkin aku berpikir untuk bahwa mama adalah orang yang kuno, norak, gaptek, sementara mama dulu yang mengajarkan dan mengenalkan aku menggunakan sepeda, televisi...
Bagaimana mungkin aku merasa lelah dengan aktivitasku dan terkadang melupakannya sementara mama yang begitu lelah mengurusku sejak kecil tak pernah mengeluh...
Ya Allah....
Durhakanya aku kepada mama....
Mama, maafkan anakmu ini....
Tak bisa kugantikan tangis luka dan kecewamu dengan apapun, tapi akan kupastikan bahwa suatu saat nanti aku akan membanggakan dan membahagiakanmu..



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berikan komentar anda di bawah sini.